Momen Paling Menyebalkan Saat Panen: Harga Lagi Anjlok, Tengkulak Malah Pamer Motor Baru

Diposting pada

Pernah ngerasain nggak, Bun? Pagi-pagi udah semangat ke sawah, caping udah nangkring manis di kepala, celana kolor kesayangan udah siap berlumpur-lumpur ria, eh sampai di sana, begitu lihat padi yang udah menguning cantik, hati rasanya plong. Tapi begitu ingat harga gabah yang katanya lagi turun drastis, rasanya pengen guling-guling di pematang sawah sambil teriak, “Ya Tuhan, kok tega banget sih?!” Nah, itulah kira-kira gambaran perasaan kita semua, para petani dan keluarga petani, setiap kali musim panen tiba tapi pasar lagi nggak bersahabat. Dan yang bikin makin gregetan? Tengkulak malah lewat depan rumah pake motor baru, klakson-klakson santai, senyum-senyum lebar kayak abis nikah lagi. Padahal kita di sini lagi ngitung-ngitung, apa hasil panen cukup buat bayar pupuk atau malah nombok lagi. Eh, si abang tengkulak malah pamer knalpot racing yang bunyinya ngagetin seisi kampung. Gimana nggak emosi coba?

Cerita ini nyata adanya, Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian. Bukan dongeng pengantar tidur, bukan juga sinetron sore yang lebay. Ini kenyataan yang terjadi saban tahun di negeri kita tercinta. Setiap kali panen raya datang, bukannya senyum sumringah, yang ada malah muka manyun sepanjang hari. Kenapa? Karena harga gabah kering panen seringkali langsung terjun bebas, lebih cepat dari pada kita kepleset di sawah. Bayangkan, sudah berbulan-bulan merawat padi dengan penuh cinta, dari nyemai benih, nanam, ngasi pupuk, nyemprot hama, ngairin, sampai akhirnya panen. Capeknya bukan main. Punggung rasanya mau copot, kulit gosong terbakar matahari, tangan kapalan. Tapi apa balasannya? Harga yang bikin hati ikut-ikutan kering. Dan di saat yang sama, tengkulak datang dengan motor barunya, mengkilap, tanpa setitik lumpur pun, seolah-olah bilang, “Makasih ya Pak, Bu, berkat panen kalian, saya bisa kredit motor lagi!” Sakit? Banget!

Tapi tunggu dulu, jangan keburu emosi. Kita bahas pelan-pelan, santai, sambil ngeteh atau ngopi dulu. Ambil gorengan, kalau ada. Siapa tau sambil ngunyah, hati jadi agak tenang. Pertanyaan pertama yang sering muncul di grup WhatsApp keluarga adalah, “Kenapa sih harga selalu anjlok pas panen raya?” Nah, ini pertanyaan sakral yang jawabannya sebenarnya sederhana tapi bikin gregetan. Jawabannya: hukum pasar, Bun, Pak. Pasokan melimpah, permintaan tetap atau malah turun, ya harga otomatis jatuh. Mirip kayak kita jualan es teh pas musim hujan, pasti sepi peminat. Bedanya, ini urusan hidup mati petani. Kalau es teh nggak laku, kita bisa minum sendiri beramai-ramai, tapi kalau gabah nggak laku atau harganya hancur, gimana mau makan? Gabah nggak bisa langsung dikunyah kayak kerupuk. Harus dijemur, digiling, baru jadi beras. Itu pun kalau dijual eceran, butuh waktu dan tenaga ekstra. Ujung-ujungnya, pilihan paling gampang dan cepat ya jual ke tengkulak. Meskipun harganya bikin gigi gemeretuk.

Dan di sinilah si tokoh utama kita muncul: Sang Tengkulak. Sosok yang sering digambarkan sebagai “pahlawan” sekaligus “penjahat” dalam dunia pertanian. Kok bisa begitu? Pahlawan, karena dia datang saat petani butuh uang cepat. Penjahat, karena sering mempermainkan harga seenak perutnya sendiri. Di grup keluarga, biasanya kita ngomongin tengkulak dengan nada setengah gemas setengah kagum. “Eh, si Udin kemarin lewat, motornya udah ganti lagi lho, NMAX terbaru, warna hitam doff. Keren. Tapi kok bisa ya? Baru sebulan yang lalu motornya masih Supra butut, sekarang udah naik kelas. Duit dari mana kalau bukan dari selisih harga gabah kita?” Begitulah kira-kira percakapan yang sering terjadi. Memang, faktanya banyak tengkulak yang menikmati margin keuntungan lumayan besar. Mereka beli gabah dari petani dengan harga murah, simpan di gudang, tunggu harga naik, baru dijual lagi ke penggilingan besar atau pedagang beras. Kadang, mereka juga main di permainan air gabah, di mana gabah yang masih basah dibeli dengan potongan besar. Petani yang terdesak butuh uang, mau nggak mau terima harga itu. Lahir-lah motor-motor keren di jalanan desa.

Tapi, apa benar semua tengkulak begitu? Eits, nggak juga. Ada juga tengkulak yang baik hatinya, yang kadang justru jadi penyelamat di kala sulit. Nah, ini dia dilemanya. Kadang kita benci, kadang kita butuh. Kayak hubungan sama mertua, rumit. Tapi kali ini kita fokus ke tipe tengkulak yang suka pamer itu. Kenapa sih, mereka begitu percaya diri pamer motor baru di depan petani yang lagi kesusahan? Apakah mereka nggak punya perasaan? Atau justru memang itu bagian dari strategi bisnis? Hmm, mari kita kupas. Yang pertama, mungkin mereka sebenarnya nggak bermaksud pamer, tapi karena mereka baru beli motor, ya dipakai lah. Masa iya motor baru disimpan di gudang, sayang. Tapi karena timing-nya pas banget dengan masa panen harga anjlok, jadi terlihat seolah mereka sengaja menyombongkan diri. Yang kedua, bisa jadi mereka memang ingin unjuk gigi, sebagai bukti bahwa bisnis mereka lancar jaya. “Lihat nih, saya berhasil. Kalau kalian mau berhasil juga, jual gabahmu padaku dengan harga yang sudah kutentukan.” Sebuah pesan psikologis yang menusuk. Yang ketiga, ya mungkin mereka cuma orang biasa yang excited punya motor baru. Siapa sih yang nggak bangga punya motor idaman setelah bertahun-tahun nabung atau kredit? Mungkin mereka nggak sadar kalau konteksnya sedang sensitif.

Tapi sudahlah, kita nggak bisa terus-terusan menyalahkan tengkulak. Mari kita lihat ke dalam diri kita sendiri sebagai petani. Apakah ada yang bisa kita lakukan agar nggak terjebak terus dalam situasi menyebalkan ini? Pertanyaan besar ini sering muncul di obrolan warung kopi. “Bisa nggak sih kita jual gabah tanpa tengkulak?” Bisa! Tapi nggak gampang, Bapak-Ibu. Karena itu artinya kita harus bisa mengolah gabah jadi beras, mengemasnya dengan baik, dan memasarkannya sendiri. Butuh modal tambahan, pengetahuan, dan yang paling penting, keberanian. Nggak semua petani siap dengan itu. Banyak yang lebih memilih jalur aman meski harga murah, yang penting uang cepat cair. “Yang penting besok bisa buat beli lauk,” begitu katanya. Dan itu valid, Bun! Kebutuhan sehari-hari nggak bisa nunggu. Anak butuh jajan, sekolah butuh bayar, listrik tokennya udah ngedip-ngedip. Siapa yang kuat nunggu beras laku kalau perut udah keroncongan? Inilah dilema abadi petani kecil.

Ngomong-ngomong soal motor baru tengkulak, pernah ada kejadian lucu di desa saya. Si Dul, tengkulak yang terkenal bawel, suatu hari datang ke sawah waktu panen. Dia pake motor Honda Beat warna pink mencolok. Kenapa pink? Katanya biar semangat kerjanya. Petani lain pada ngomong, “Wah, Dul, motornya bagus amat. Pasti laku keras ya gabahnya?” Si Dul cengengesan, “Alhamdulillah, rezekinya buat kredit motor ini.” Lalu ada Pak Karto, petani paling senior, yang dengan santainya nyeletuk, “Kredit? Berapa tahun? Bunganya berapa persen?” Si Dul langsung kicep. Langsung pada ketawa semua. Ternyata, si Dul juga masih kredit, bukan beli cash. Tapi tetep aja, pamer motor baru meskipun kredit, di saat harga gabah lagi anjlok, tetap saja bikin iri campur gemas. Begitulah dinamika sosial di desa kita. Saling ledek tapi tetap akrab.

Lantas, apa yang bisa kita petik dari fenomena ini? Banyak. Pertama, bahwa pertanian kita memang masih punya banyak PR besar. Sistem tata niaga yang masih panjang dan nggak efisien, membuat petani selalu di posisi paling bontot. Kedua, bahwa mentalitas instan juga kadang menghinggapi kita. Inginnya cepat dapat uang, tanpa mau repot mengolah hasil panen lebih lanjut. Ketiga, bahwa kita butuh edukasi dan pendampingan agar lebih berdaya. Keempat, kita butuh support system yang kuat, baik dari pemerintah, koperasi, atau sesama petani. Jangan cuma bisa ngomel di grup, tapi juga harus ada aksi nyata. Tapi, ya itu tadi, namanya hidup, nggak semudah teori di buku. Praktiknya seringkali bikin kepala pusing tujuh keliling. Apalagi kalau musim hujan, harga gabah anjlok, jalan sawah becek, motor macet, terus lihat tengkulak lewat dengan motor bersih kinclong. Duuuuh, cobaan hidup macam apa ini?

Coba kita ingat-ingat lagi, momen panen tiba itu sebenarnya momen yang paling ditunggu. Setelah berbulan-bulan kerja keras, rasanya deg-degan campur bahagia. Kita sering membayangkan, “Nanti hasil panen mau buat ini, buat itu.” Ada yang berencana renovasi rumah, ada yang pengen beli sapi, ada yang ingin berangkat umroh, ada yang sekadar ingin melunasi hutang di warung. Tapi begitu kenyataan bicara lain, semua rencana indah itu menguap begitu saja. Pupus sudah harapan. Dan yang paling nyesek, tetangga kita yang berprofesi sebagai tengkulak malah update status di Facebook, “Alhamdulillah, rezeki panen kali ini lancar, bisa wujudin impian punya Jupiter MX King 150. Makasih ya Allah.” Sontak, grup keluarga kita langsung rame. Ada yang komen, “Alhamdulillah, Pak, tapi maaf, itu modalnya dari hasil ngemplang harga gabah kami.” Ada yang nyeletuk, “Motor king, harga gabah makin king-kingking nyaring bunyinya di telinga, Pak.” Ada juga yang bijak, “Sabar, mungkin itu cara Allah ngasih rezeki lewat dia. Kita harus introspeksi, kenapa kita nggak bisa kayak dia?” Dan perdebatan pun berlanjut sampai tengah malam, berakhir dengan kiriman stiker “Selamat Malam” dan “Jangan Lupa Sholat Tahajud”. Begitulah khas percakapan grup keluarga emak-bapak. Seru, tapi penuh makna.

Kalau dipikir-pikir, ada banyak banget momen menyebalkan saat panen selain harga anjlok dan tengkulak pamer. Salah satunya adalah saat gabah kita ditimbang. Tau sendiri kan, timbangan tengkulak kadang misterius. Bisa tiba-tiba berat gabah kita susut entah kemana. Padahal di rumah udah kita timbang sendiri, sampai ke gram-gramnya, eh sampai di sana tiba-tiba kurang beberapa kilo. “Lho, kok bisa berkurang? Apa ada yang jatuh di jalan?” tanya kita polos. Si tengkulak dengan santainya jawab, “Mungkin karena kadar airnya tinggi, Pak, jadi susut.” Lah, susut dari mana? Perjalanan dari sawah ke timbangan aja cuma lima menit, masa iya langsung menguap kayak spiritus? Ini sih udah masuk kategori magic show. Tapi apa daya, karena kita nggak punya bukti dan butuh uang, ya sudahlah, kita terima dengan hati yang sedikit menjerit. Di lain waktu, ada lagi momen saat tengkulak menentukan kualitas gabah. Tiba-tiba dia ambil segenggam gabah, diraba, dicium, terus bilang, “Ini masih basah nih, kurang kering. Saya potong 15 persen ya.” Padahal baru saja dijemur tiga hari berturut-turut di bawah terik matahari yang sanggup bikin kulit mengelupas. Hati rasanya kayak diremas-remas. Tapi lagi-lagi, transaksi tetap jalan. Kita cuma bisa menghela napas panjang. “Ya udahlah, daripada nggak laku.”

Dan jangan lupakan momen ketika kita mencoba nego harga. Adegan ini selalu mengharukan sekaligus lucu. “Bang, harga gabah sekarang berapa?” tanya kita dengan nada penuh harap. “Lagi turun, Pak/Bu. Kemarin 4500, sekarang paling 4200. Itu pun kalau keringnya bagus.” Deg. Hati langsung berdetak kencang. “Kok turun lagi, Bang? Kemarin katanya mau naik?” “Ya mau gimana lagi, stok di gudang masih banyak. Saya juga bingung mau jual kemana.” Pura-puranya si abang tengkulak ikut prihatin. Padahal, dua minggu kemudian kita lihat dia udah pasang spion model carbon di motor barunya. Harga spionnya aja mungkin setara dengan selisih harga gabah kita yang dipotong. Mau marah, tapi ingat dia satu-satunya yang mau bayar kontan. Mau sabar, kok ya rasanya dunia ini nggak adil banget. Tapi, tunggu dulu. Apakah memang segitunya posisi kita sebagai petani? Lemah dan selalu dirugikan? Jawabannya: bisa iya, bisa tidak. Tergantung bagaimana kita menyikapi. Ada petani yang berhasil keluar dari lingkaran setan ini. Caranya? Dengan berkelompok, membentuk koperasi, atau gabung ke kelompok tani yang punya akses ke penggilingan dan pasar yang lebih luas. Dengan begitu, mereka bisa memotong rantai distribusi dan mendapatkan harga yang lebih baik. Tapi memang, tidak semua daerah bisa melakukan ini. Butuh modal sosial yang kuat, kepercayaan, dan yang paling penting, leadership yang amanah. Jangan sampai koperasi dibentuk, eh ketua dan bendaharanya malah ikut-ikutan beli motor baru tanpa bayar petani. Nah, kan tambah runyam.

Balik lagi ke topik motor baru sang tengkulak. Sebetulnya, kalau kita pikir dengan kepala dingin, motor itu bukan simbol kejahatan. Itu hanya simbol bahwa ada nilai ekonomi yang berputar di sekitar pertanian kita. Dan nilai itu, sayangnya, lebih banyak dinikmati oleh para pedagang perantara. Pertanyaannya, kenapa kita sebagai produsen utama nggak bisa menikmati nilai itu secara lebih adil? Jawabannya kompleks. Mulai dari kebijakan pemerintah yang kadang setengah hati, infrastruktur yang buruk, akses permodalan yang susah, sampai teknologi yang masih sederhana. Pertanian kita adalah pertanian heroik. Petani adalah pahlawan yang berjuang di medan lumpur, tapi seringkali pahlawan yang terlupakan. Kita ini ibaratnya ujung tombak ketahanan pangan nasional, tapi ujung tombaknya berkarat. Ironis sekali. Sementara itu, di luaran sana, orang-orang sibuk debat soal motor mana yang paling irit bensin, Vario atau Beat, sementara petani sibuk mikir, bensin buat mesin pompa air aja udah naik. Begitulah kontras kehidupan.

Mari kita flashback sedikit ke masa lalu. Jaman dulu, sebelum era motor-motor keren merajai jalan desa, tengkulak masih pakai sepeda onthel atau motor tua yang bunyinya berisik minta ampun. Dulu, nilai hasil bumi lebih dihargai, atau setidaknya, petani masih bisa sedikit tersenyum saat panen. Kenapa sekarang rasanya makin berat? Banyak faktor. Biaya produksi naik terus. Pupuk kimia makin mahal, kadang langka. Benih unggul harganya selangit. Obat-obatan pertanian juga. Semua input naik, tapi output harganya stagnan atau malah turun. Ini namanya gunting harga, istilah kerennya cost-price squeeze. Petani terjepit di tengah. Mau menaikkan harga jual? Nggak bisa karena pasar berkata lain. Mau menurunkan biaya? Sulit, karena input pokok memang harganya begitu. Ujung-ujungnya, keuntungan tergerus. Kalau ada petani yang masih bisa bertahan, itu karena mereka hidup sangat sederhana atau punya pekerjaan sampingan. Yang tragis, banyak petani yang beralih fungsi lahan. Sawah dijual, jadi perumahan atau kawasan industri. “Daripada capek-capek nanam padi hasilnya nggak seberapa, mending dijual sekalian, sekali dapat uang banyak.” Ini adalah fenomena yang menyedihkan, karena kita kehilangan lahan produktif dan petani kehilangan identitasnya.

Tapi, bukan berarti nggak ada harapan. Banyak lho petani muda yang sekarang mencoba pendekatan baru. Mereka ngeblog, bikin konten YouTube tentang pertanian, jualan beras lewat Instagram, bahkan ada yang pakai TikTok buat promosi hasil panen. Mereka sadar, bahwa salah satu kunci mengatasi permainan tengkulak adalah dengan mendekatkan diri ke konsumen akhir. Istilahnya, memotong mata rantai distribusi. Jadi, konsumen bisa dapat beras lebih murah dan segar, petani dapat harga lebih tinggi. Win-win solution. Tapi sekali lagi, ini butuh effort lebih. Butuh belajar digital marketing, packing yang menarik, branding, dan logistik. Nggak semua petani bisa dan mau melakukan itu. Apalagi yang sudah berumur, yang HP-nya aja cuma buat nelpon dan WA-an seadanya, jangan suruh mereka bikin konten TikTok, nanti malah pusing sendiri. “Yang ada malah motornya kesenggol waktu joget,” celetuk salah satu bude di grup. Makanya, kolaborasi antara generasi muda melek digital dengan petani senior yang berpengalaman sangatlah penting. Ini adalah resep agar pertanian kita nggak jalan di tempat.

Eh, ngomong-ngomong soal joget TikTok, pernah ada kejadian lucu nih. Ada petani yang iseng bikin video TikTok di sawah, pake backsound lagu remix, memperlihatkan tumpukan gabahnya. Caption-nya: “Alhamdulillah panen raya, harga bagus, terima kasih ya Allah.” Eh, tahu-tahu banyak yang komen, “Pak, itu harga berapa? Saya mau beli langsung.” Si bapak kaget, nggak nyangka TikTok bisa jadi ladang jualan. Akhirnya, dia mulai jualan beras lewat TikTok. Tapi, ceritanya nggak berhenti di situ. Si tengkulak yang biasa membeli gabahnya ngeliat video itu, terus dia telepon, “Pak, kok jualan sendiri? Saya gimana?” Si bapak dengan santainya jawab, “Lho, kamu kan udah punya motor baru, masak saya nggak boleh punya motor baru juga?” Dan jadilah perang dingin antara petani dan tengkulak versi era digital. Ini kisah nyata yang menunjukkan bahwa teknologi bisa jadi senjata ampuh untuk melawan ketidakadilan. Meskipun, ya, nggak semua cerita berakhir semanis itu. Banyak juga yang tetap gagal karena berbagai kendala.

Jadi, apa inti dari semua celotehan panjang ini? Intinya, Bapak dan Ibu sekalian, dunia pertanian itu penuh lika-liku. Kadang bikin ngakak, kadang bikin nangis di pojokan dapur. Tapi yang pasti, kita semua punya hak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari hasil keringat sendiri. Jangan pernah menyerah oleh situasi. Kalau harga anjlok, jangan cuma mengeluh. Coba cari cara lain. Kalau tengkulak pamer motor baru, ya udah, anggap aja itu motivasi agar kita juga bisa beli motor baru dengan cara kita sendiri yang halal dan bermartabat, tanpa harus merugikan petani lain. Dan, yang paling penting, jaga selalu rasa syukur. Karena di balik semua kesusahan, selalu ada nikmat yang mungkin nggak kita sadari. “Mungkin tahun ini harga lagi turun, tapi tahun depan kita bisa panen dua kali lipat, siapa tahu?” begitu kalimat penghibur yang sering beredar di grup.

Selain itu, penting juga untuk memperkuat solidaritas sesama petani. Jangan sampai karena perbedaan harga atau rebutan tengkulak, hubungan kekerabatan jadi rusak. Ingat, kita semua senasib sepenanggungan. Kalau ada tetangga yang kesusahan, bantu semampunya. Kalau ada informasi tentang harga yang lebih baik, bagikan. Jangan pelit ilmu. Karena dengan bersama, kita bisa lebih kuat. Bisa membuat kelompok tani, koperasi, atau bahkan BUMDes yang bergerak di bidang pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Dengan begitu, kita punya posisi tawar yang lebih baik. Tengkulak pun akan berpikir ulang untuk seenaknya mempermainkan harga. Motor baru mereka mungkin tetap ada yang beli, tapi setidaknya, kita juga bisa punya andil dalam menentukan harga, bukan cuma jadi penonton yang gigit jari.

Satu hal lagi yang sering bikin geregetan adalah, ketika kita lihat di berita, harga beras di kota naik, tapi di tingkat petani tetap rendah. Lho, kok bisa? Siapa yang menikmati selisihnya? Lagi-lagi, mata rantai yang panjang. Dari petani ke penebas, ke penggilingan, ke agen, ke pengecer, sampai ke konsumen. Setiap titik ada margin keuntungan. Panjangnya rantai ini yang membuat disparitas harga begitu tinggi. Ini PR besar kita bersama. Pemerintah sebenarnya sudah punya program seperti Toko Tani Indonesia atau pasar murah, tapi implementasinya seringkali belum maksimal. Kadang kita berharap ada ajaib yang bisa memotong semua rantai itu dalam semalam. Tapi namanya juga ajaib, adanya di negeri dongeng. Di dunia nyata, kita harus bergerak perlahan tapi pasti. Setiap langkah kecil itu berarti. Mulai dari mengeringkan gabah dengan baik, menyimpannya di lumbung, menjual sedikit-sedikit, atau mengolahnya menjadi produk lain yang bernilai tambah. Tepung beras, misalnya, atau kerupuk beras. Siapa tau dari situ bisa lahir usaha rumahan yang menguntungkan.

Kadang, di tengah kegalauan harga panen, muncul juga ide-ide absurd dari anggota grup keluarga. Seperti, “Gimana kalau kita patungan beli motor buat dipamerin ke tengkulak? Biar dia tau rasa!” Yang lain nimpalin, “Wah, ide bagus. Nanti motornya kita parkir pas dia datang, kita pura-pura bilang, ‘Ini hasil dari nggak jual ke kamu, Bang.'” Semua pun tertawa terbahak-bahak. Memang, humor adalah salah satu cara kita bertahan dari tekanan. Meskipun kondisi lagi sulit, kita masih bisa ketawa-ketiwi. Inilah hebatnya mental petani Indonesia. Pantang menyerah, meski seringkali nasib seperti dipermainkan. Setelah tertawa, biasanya akan ada yang mengirim doa, “Ya Allah, semoga panen berikutnya lebih baik. Aamiin.” Lalu yang lain menyahut, “Aamiin ya Rabbal Alamin.” Kemudian hening. Masing-masing mungkin kembali merenungkan nasibnya sendiri, berharap ada keajaiban kecil yang datang.

Ngomong-ngomong soal motor, pernahkah terpikir, kenapa sih para tengkulak itu identik dengan motor? Apa karena mobil terlalu mahal? Atau karena motor lebih praktis buat menerobos jalanan setapak di sawah? Jawabannya mungkin iya. Motor adalah simbol mobilitas dan status di pedesaan. Dengan motor, mereka bisa menjangkau petani-petani di pelosok. Dengan motor keren, mereka juga bisa menunjukkan bahwa bisnis mereka sukses. Anehnya, hubungan antara petani dan tengkulak ini kadang sangat personal. Sudah bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, bertransaksi dengan orang yang sama. Ada semacam trust dan ketergantungan. Tengkulak kadang berperan sebagai ‘bank’ darurat, tempat petani bisa meminjam uang saat butuh, dan hutang dibayar dengan hasil panen nanti. Inilah yang membuat petani sulit lepas dari mereka. Jadi, saat kita melihat motor baru tengkulak, sebenarnya kita juga melihat hasil dari sistem yang kita bangun sendiri. Sistem yang mungkin merugikan, tapi terlanjur nyaman.

Untuk keluar dari sistem ini, butuh keberanian. Berani untuk mandiri, berani untuk mencoba hal baru, berani untuk gagal. Tapi, tidak semua orang punya privilege untuk berani. Ketika dapur masih ngebul dengan cara yang ada, meskipun pas-pasan, mencoba hal baru adalah sebuah risiko besar. Kalau gagal, bisa-bisa dapur nggak ngebul sama sekali. Inilah dilema yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengalaminya langsung. Maka, daripada menghakimi, lebih baik kita saling support. Kalau ada petani yang mencoba jualan online, ayo kita bantu share. Kalau ada kelompok tani yang mulai produksi beras premium, kita beli. Dengan begitu, kita ikut menjadi bagian dari solusi. Bukan hanya penonton yang suka mengkritik.

Kesimpulannya, momen menyebalkan saat panen itu memang ada. Harga anjlok dan tengkulak pamer motor baru hanyalah puncak dari gunung es permasalahan pertanian kita. Tapi, yakinlah, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Mungkin nggak langsung, mungkin perlahan, tapi selama kita terus bergerak dan berbenah, harapan itu selalu ada. Jangan biarkan motor baru orang lain mengalahkan semangat kita. Anggap saja itu cambuk untuk lebih kreatif, lebih berdaya, dan lebih solid. Dan ingat selalu, sejatinya, petani adalah raja di tanahnya sendiri. Mungkin saat ini mahkota kita agak luntur, tapi percayalah, suatu saat mahkota itu akan kembali berkilau, entah dengan cara tradisional atau dengan bantuan algoritma TikTok sekalipun. Yang penting, jangan lupa bahagia. Seperti kata pepatah dari grup WhatsApp keluarga: “Hidup itu kayak gabah, kadang kering kadang basah. Yang penting tetap dijemur, biar nggak bau.” Setuju, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu?

Tentu saja perjalanan kita sebagai petani atau keluarga petani tidak berhenti pada satu musim panen saja. Setelah panen ini, akan ada musim tanam berikutnya. Siklus yang terus berulang. Ada masa di mana kita kembali menabur benih, berharap hasil yang lebih baik di masa depan. Seandainya setiap benih yang kita tanam juga menanamkan sejumput optimisme, mungkin hati ini tidak akan sempit-sempit amat melihat tingkah tengkulak. Optimisme bahwa suatu hari nanti, kitalah yang akan melaju dengan motor hasil jerih payah sendiri, tanpa potongan harga yang tidak masuk akal, tanpa timbangan yang penuh teka-teki. Motor yang kita beli dari menjual beras organik lewat marketplace, misalnya. Atau dari koperasi tani yang akhirnya punya mesin pengering gabah sendiri. Mimpi? Tentu saja. Tapi bukankah setiap perubahan besar selalu dimulai dari mimpi kecil yang diperbincangkan di saung sambil minum kopi? Jadi, mari kita rawat mimpi itu bersama-sama.

Ada cerita inspiratif nih dari daerah Jawa Tengah. Sekelompok petani di sana sepakat untuk tidak menjual gabahnya ke tengkulak besar. Mereka mengumpulkan hasil panen, mengeringkan bersama di lantai jemur milik desa, lalu menggilingnya di penggilingan kecil milik koperasi. Berasnya mereka jual dengan label “Beras Petani Mandiri”. Awalnya susah. Banyak cibiran. “Mana laku, kemasannya aja biasa.” Tapi mereka pantang menyerah. Perlahan, mereka mulai menerobos pasar swalayan kecil, bahkan akhirnya diterima di supermarket besar. Harga jual beras mereka lebih tinggi, petani pun dapat bagian lebih besar. Sekarang, banyak dari anggota kelompok itu yang sudah bisa membeli motor baru, bukan dari hasil bermain-main di harga gabah, tapi dari nilai tambah yang mereka ciptakan sendiri. Saat ada tengkulak datang menawarkan harga murah, mereka tinggal senyum dan bilang, “Maaf ya, Bang, gabah kami sudah ada harganya sendiri. Silakan cari yang lain.” Dan si tengkulak pun pergi, sambil mungkin berpikir, “Kok bisa ya mereka berubah?” Nah, cerita seperti ini harusnya bisa jadi virus positif. Kenapa tidak kita coba di daerah kita masing-masing?

Tentu saja, nggak semudah membalikkan telapak tangan. Pasti banyak hambatan. Mulai dari permodalan untuk membeli alat pengering, mesin giling, sampai kemasan. Belum lagi soal perizinan dan sertifikasi kalau mau masuk pasar modern. Tapi, bukankah setiap perjuangan memang harus melewati rintangan? Daripada tiap tahun cuma bisa mengeluh saat harga anjlok dan tengkulak pamer motor, lebih baik mencoba sesuatu meskipun berat. Pemerintah sebenarnya juga punya banyak program bantuan alat dan mesin pertanian. Coba dicek, siapa tau kelompok tani di daerahmu bisa mengaksesnya. Jangan malu bertanya, jangan takut mencoba. Ingat, diam di tempat hanya akan membuat kita terus-menerus menjadi objek, bukan subjek dalam rantai nilai pertanian. Dan jangan lupa, anak-anak muda di desa adalah aset berharga. Ajak mereka terlibat. Mereka paham teknologi, mereka punya energi. Kolaborasi antara kearifan lokal petani senior dan semangat modern anak muda adalah kombinasi yang dahsyat.

Oh iya, kembali ke soal motor baru tengkulak tadi. Ada sudut pandang menarik dari para istri petani. Di grup, bukannya membahas teknis pertanian, mereka malah fokus ke jenis dan warna motornya. “Eh, itu motor si Ujang udah ganti lagi, sekarang matic, enak ya dipake ke pasar nggak pegel.” “Iya, tadi saya lihat istrinya boncengan, bawa belanjaan banyak. Saya jadi iri, Bun. Kapan ya kita bisa kayak gitu?” “Sabar, Bun. Nanti kalau panen kita jual sendiri, kita juga bisa. Malah kita beli yang lebih bagus, biar si Ujang melongo.” Percakapan yang ringan tapi sebenarnya menyimpan asa yang dalam. Di balik candaan itu, ada cita-cita untuk bisa hidup lebih sejahtera. Ada keinginan untuk dihargai, untuk bisa menikmati hasil kerja keras sendiri tanpa harus merasa tertipu atau dipermainkan. Dan bukankah itu hak setiap manusia? Maka, mendengar obrolan seperti ini, hati jadi hangat sekaligus miris. Hangat karena para ibu ini tetap kuat dan optimis, miris karena kondisi yang membuat optimisme itu seperti perjuangan melawan arus deras.

Kalau dipikir lagi, musim panen memang selalu menghadirkan spektrum emosi yang lengkap. Ada suka, duka, haru, lucu, kesel, semua jadi satu. Seperti bumbu dapur yang lengkap. Ada manisnya, ada asinnya, ada pahitnya. Dan itulah hidup. Kita nggak bisa memilih untuk hanya merasakan yang manis-manis saja. Rasa pahit pun harus kita telan, kadang sambil merutuk, kadang sambil tertawa getir. Tapi percayalah, setiap rasa pahit yang kita alami akan membuat kita lebih kuat dan lebih bijak. Termasuk pahitnya melihat tengkulak pamer motor baru. Anggap saja itu vitamin pahit yang menyehatkan. Membuat kita berpikir, mencari solusi, dan bergerak. Daripada cuma jadi penonton yang setiap tahun menyaksikan drama yang sama, lebih baik kita ambil peran sebagai aktor utama yang mengubah jalan cerita.

Jadi, untuk Bapak dan Ibu yang mungkin saat ini sedang manyun karena harga gabah turun, atau yang lagi ngomel-ngomel karena abang tengkulak lewat dengan motor barunya, tarik napas dulu yang panjang. Buang jauh-jauh energi negatif. Ingat, panen kali ini mungkin bukan yang terbaik, tapi panen berikutnya masih bisa kita perjuangkan. Masih ada waktu untuk berbenah. Masih ada kesempatan untuk mencoba strategi baru. Jangan biarkan harga yang anjlok mengikis semangat kita. Jangan biarkan motor baru orang lain membuat kita merasa rendah diri. Kita ini petani, penyangga kehidupan. Tanpa kita, mereka yang di kota nggak bisa makan. Tanpa kita, negara bisa kelaparan. Jadi, angkat kepala tinggi-tinggi. Kita adalah pahlawan. Mungkin pahlawan yang sering lupa diri, tapi tetap pahlawan. Dan pahlawan sejati tidak akan menyerah hanya karena harga gabah lagi murah atau karena ada yang pamer kendaraan baru.

Satu tips lagi nih dari saya, coba deh sesekali kita berhitung dengan lebih detail. Catat semua biaya produksi, dari benih, pupuk, obat, tenaga kerja, sampai biaya panen. Lalu bandingkan dengan hasil penjualan. Dari situ kita bisa lihat, sebenarnya untung atau rugi. Kalau ternyata rugi atau untung terlalu kecil, berarti ada yang salah. Bisa jadi biaya yang terlalu besar, atau harga jual yang terlalu rendah. Dengan data ini, kita bisa mengambil keputusan lebih baik. Mungkin jenis tanamannya perlu diganti, atau teknik budidayanya perlu diperbaiki. Mungkin juga kita perlu menambah nilai dengan menjual dalam bentuk beras, bukan gabah. Atau bahkan mencari komoditas lain yang lebih menguntungkan. Semua perlu pertimbangan matang. Yang jelas, jangan terus-terusan menanam tanpa evaluasi. Itu namanya kerja rodi, Bapak-Ibu. Sekali-sekali, otak juga perlu dipakai, bukan cuma otot. Hehehe, canda, canda. Tapi serius, evaluasi itu penting.

Nah, untuk menutup artikel yang panjang ini, mari kita simpulkan dengan beberapa poin singkat. Pertama, harga gabah anjlok saat panen raya adalah masalah klasik yang disebabkan oleh oversupply dan rantai distribusi yang panjang. Kedua, tengkulak seringkali menjadi pihak yang diuntungkan dalam situasi ini, yang kemudian memamerkan keuntungannya dalam bentuk motor baru, yang tentu saja bikin kita gregetan. Ketiga, ada banyak cara untuk keluar dari jeratan ini, mulai dari berkelompok, memotong rantai distribusi dengan menjual langsung ke konsumen, hingga mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Keempat, teknologi dan anak muda adalah kunci untuk mentransformasi pertanian kita. Kelima, yang paling penting, tetaplah optimis dan jangan pernah menyerah. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, asal kita mau berusaha dan berdoa. Dan keenam, kalau suatu saat kita sudah berhasil dan bisa membeli motor baru, jangan pamer di depan petani lain yang sedang kesusahan ya, Bapak-Ibu. Ingat, roda itu berputar. Hari ini di atas, besok bisa di bawah. Maka, tetaplah rendah hati dan saling membantu.

Sekian celotehan saya. Semoga bisa menjadi penghibur di kala gundah dan penyemangat di kala lelah. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Namanya juga curhat, kadang emosi meledak-ledak. Tapi niat saya hanya satu, yaitu berbagi keresahan dan harapan bersama Bapak dan Ibu semua. Mari kita songsong musim panen berikutnya dengan semangat baru, strategi baru, dan hati yang lebih lapang. Siapa tau, panen berikutnya bukan lagi cerita sedih, tapi cerita sukses yang bisa kita ceritakan ke anak cucu. “Dulu, kakekmu itu petani yang berhasil mengalahkan tengkulak dengan kecerdasan dan kerja kerasnya. Motor ini adalah salah satu buktinya.” Aamiin, ya Allah. Sampai jumpa di artikel-artikel curhat berikutnya. Tetap semangat, tetap produktif, dan jangan lupa tersenyum, meskipun harga gabah lagi turun. Karena senyum itu gratis, Bapak-Ibu. Nggak dipotong tengkulak kok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *