Curhat Petani Milenial: Mau Swafoto di Sawah Kece, Eh Malah Diseruduk Bebek

Diposting pada

Mak, Bapak, siapa bilang jadi petani zaman now itu nggak bisa hits?

Halo gaes, kenalin aku Dimas, petani milenial asal Subang yang kesehariannya lebih banyak ngobrol sama padi daripada sama gebetan.

Kali ini aku mau curhat soal pengalaman yang bikin aku pengen ngumpet di balik traktor.

Ceritanya bermula dari niat suci: bikin konten kece di sawah.

Masa iya anak muda kalah eksis sama tanaman?

Kebetulan padi di petak sawahku lagi hijau royo-royo, anginnya syahdu, langit biru, pokoknya estetik pol!

Modalnya cuma kaos oblong, celana karet, sama topi jerami pinjaman bapak.

Semua udah siap, tinggal ambil angle terbaik.

Tripod udah numpang di pematang, HP udah mode potret, senyum udah latihan di depan kaca spion motor.

Eh, ada yang lupa nih.

Aku lupa kalau di sawah itu bukan cuma padi yang tinggal.

Ada warga tetap lain: bebek!

Bebeknya bukan bebek kalem yang cuma leyeh-leyeh di pinggir kali lho ya.

Ini bebek petarung, bebek jawara kampung yang hidupnya bebas merdeka.

Mereka udah kayak preman ber-KTP, gerombolannya solid, kompak, dan siap nyeruduk siapa aja yang dianggap mengganggu teritori.

Dan aku? Aku cuma bocil pengen swafoto.

Pas posisi udah pas, tangan udah ngacung peace, tiba-tiba…bruak bruak bruak!

Suara dari belakang itu bikin bulu kuduk merinding.

Belum sempat noleh, sesuatu yang empuk tapi bertenaga nubruk betisku.

Gruduk! Aku oleng, HP melayang.

Dan yang paling menyakitkan? Mukaku nyemplung ke lumpur.

Lumpur sawah yang wangi khas, yang biasanya cuma kena kaki, sekarang full masker alami.

Mak, aku jerit! Tapi bukan jerit minta tolong lho, jerit pasrah.

Siapa dalangnya? Seekor bebek jantan dengan sorot mata penuh kemenangan.

Dia berdiri gagah di atas pematang, kayak gladiator baru saja mengalahkan lawannya.

Aku yang masih setengah mokel lumpur cuma bisa melongo.

Padahal kontennya belum dapet, malah dapet malu sejagat maya.

Untung aja nggak ada yang live streaming, bisa-bisa aku jadi meme baru di grup WA keluarga.

Bayangin, Bu, status dari bude langsung nyeletuk, “Lho le, ini to yang katanya kuliah pertanian, kok kalah sama bebek?”

Haduh, hancur sudah harga diri seorang sarjana pertanian.

Tapi tunggu dulu, ini bukan cerita sedih, ini cerita tentang bangkitnya seorang petani milenial.

Dari pada ngambek, aku malah kepikiran, kenapa sih bebek bisa seagresif itu?

Apakah karena aku pakai baju warna mencolok? Atau mungkin bebeknya cemburu karena aku lebih ganteng?

Biar gak penasaran, yuk kita bahas tuntas soal bebek dan dunia persawahan yang ternyata penuh drama, Mak, Pak!

Pertama, aku mau klarifikasi dulu, bebek itu bukan musuh petani, justru mereka sahabat sejati.

Nenek moyang kita punya kearifan lokal namanya sistem integrasi padi-ternak, khususnya bebek.

Begitu padi habis dipanen, bebek-bebek dilepas buat nyari sisa gabah dan serangga.

Kotoran bebek langsung jadi pupuk organik, tanah jadi subur, bebeknya kenyang, kita hemat pakan.

Sim salabim, simbiosis mutualisme yang ciamik!

Cuma ya itu, kalau kita masuk ke markas mereka tanpa permisi, wajar kalau dikira maling gabah.

Bebek jantan punya naluri protektif tingkat dewa, apalagi kalau lagi musim kawin, siap tempur 24/7.

Kepalanya tegak lurus, leher digeleng-gelengin, paruhnya siap nyapit betis siapa aja yang lewat.

Makanya jangan heran kalau tiba-tiba dikejar, sudah resiko pekerjaan.

Ngomong-ngomong soal swafoto di sawah, sebenarnya ini tren positif banget lho buat pertanian Indonesia.

Kami para petani milenial ingin membuktikan bahwa bertani itu keren, bukan pekerjaan kelas dua.

Dengan satu unggahan estetik di Instagram atau TikTok, kita bisa ngasih lihat bahwa hidup di desa itu menyenangkan, pemandangannya gratis, udaranya seger.

Siapa tahu ada anak muda yang tergugah, “Wah, ternyata sawah keren juga ya, aku mau jadi petani jagung deh.”

Tapi ya gitu, realita tidak seindah feed Instagram.

Di balik foto ciamik, ada perjuangan melawan bebek galak, lumpur licin, dan ular sawah yang suka numpang lewat.

Mak aku pernah lho ketemu ular pas asik motret sunduk, langsung lari terbirit-birit, tripod sampe keselip di got.

Bapak lihat cuma bisa ketawa, “Wes, iku lho nak, sawah iku panggung komedi.”

Betul sih Pak, sekarang aku jadi sadar, sawah itu panggung sandiwara tanpa skenario.

Setiap sudut punya cerita, setiap lumpur punya kenangan, setiap bebek punya misi menyebar teror.

Tapi justru di situ letak keseruannya, hidup jadi petani itu dinamis, nggak monoton.

Pagi kita bikin konten, siang diseruduk bebek, sore panen padi, malamnya ngobrol sama kodok.

Emak-emak di grup sering nanya, “Le, kok ra pindah kota wae? Gaji luwih gede.”

Aku jawab aja, “Nanti siapa yang rawat sawah simbah? Siapa yang nerusin legacy keluarga?”

Lagian, gaji memang penting, tapi kepuasan batin saat panen raya itu mahal, Bu.

Lihat bulir padi menguning, siap dipanen, rasanya kayak baru lulus S2, lega dan bangga.

Apalagi kalau panennya melimpah, bisa buat traktir emak-emak pengajian, itu kebahagiaan dobel.

Bapakku pernah bilang, “Le, sawah iku ibarat pasangan, kudu disayang, diajak ngomong, dikandani, ben subur.”

Awalnya aku pikir itu mitos, eh ternyata setelah kucoba, ngobrol sama padi tiap subuh, hasilnya memang berbeda.

Tanaman jadi lebih hijau, mungkin karena sering dipuji ganteng kali ya?

Lha terus bebeknya gimana? Apakah aku dendam? Nggak lah, orang beriman itu pemaaf.

Tapi aku punya strategi baru, setiap mau swafoto, aku bawa senjata rahasia: nasi sisa.

Jadi begitu bebek mendekat dengan tampang garang, aku langsung lempar nasi, mereka langsung kalem berebut makan.

Bahkan sekarang aku punya asisten konten dadakan, si Joko, bebek jantan yang dulu nyerudukku, sekarang jadi model dadakan.

Dia sering nemenin aku di sawah, sambil cengar-cengir minta jatah.

Kalau ada bebek lain yang berani macam-macam, Joko maju duluan, kayak bodyguard pribadi.

Mak, aku jadi punya bodyguard bebek! Ini kan konten lucu banget.

Aku bikin video pendek, Joko jalan di depan sambil geleng-geleng kepala, background musik ala film mafia, eh viral!

Yang nonton sampe puluhan ribu, banyak yang komen, “Mana nih bos bebeknya, keren!”

Dari situ aku belajar, setiap musibah itu ada hikmahnya, yang penting kita jangan gengsi.

Jatuh ke lumpur? Anggap facial gratis dari alam.

Diseruduk bebek? Berarti kita diakui sebagai bagian dari ekosistem.

HP nyemplung? Saatnya upgrade, siapa tahu rezeki dari konten viral.

Ngomongin HP, ini poin penting banget buat para petani milenial yang hobi bikin konten.

Sawah itu kejam, debu, lumpur, air, semua musuh gadget. Jangan lupa pakai casing anti air, anti syok, anti mertua.

Aku kemarin sudah investasi HP khusus outdoor, bisa buat di bawah hujan, tahan banting, sinyal kuat sampe pelosok.

Karena sinyal di sawah kadang suka main petak umpet, Udah pose kece, pas upload, muter-muter doang loadingnya.

Bikin emosi, Pak! Emosi yang positif tentunya.

Kalau sudah gitu, biasanya aku naik ke gubug sawah, angkat tangan kanan, kiri pegang HP, ritual mencari satu bar.

Mak, itu perjuangan yang nggak semua orang ngerti, pucuk dicinta ulam pun tiba, sinyal datang, upload sukses, hatiku bernyanyi.

Tips swafoto di sawah dari aku: pertama, cek patroli bebek. Pastikan mereka lagi sibuk makan atau tidur siang.

Kalau ada jantan yang udah melotot, mundur perlahan, jangan lari, karena lari malah memicu insting kejar mereka.

Kedua, pakai alas kaki yang aman, sendal jepit rawan selip, kalau jatuh seperti aku, siap-siap jadi tontonan warga.

Ketiga, angle terbaik itu pas golden hour, sekitar jam 5-6 sore, cahaya keemasan, padi makin kinclong.

Jangan lupa bawa properti, bisa caping, sabit kecil, atau karung goni buat properti biar lebih natural.

Keempat, ajak temen biar ada yang motretin, sekaligus jadi saksi kalau terjadi insiden bebek.

Lima, jangan malu kalau hasilnya gagal, justru blooper-nya itu yang sering bikin ketawa dan viral.

Grup keluarga isinya emang jagonya roasting, tapi justru itu yang bikin kita makin kuat mental.

Sekali waktu aku upload foto jatuh di lumpur, tag caption: “Prosesi adat mandi lumpur, katanya biar awet muda.”

Eh malah dibales om, “Muda mah muda, tapi jomblo tetep jomblo.” Hadeuh, mental hancur, tapi like-nya banyak.

Bapakku yang paling senior, komentarnya selalu bijak, “Sing penting bumi lestari, anak muda manfaati teknologi.”

Nah itu, Mak, support kayak gitu yang bikin hati adem. Bapakku memang visioner, dia dukung penuh cara modern.

Beliau tahu kalau petani zaman now harus melek digital, mulai dari pemasaran online, pemesanan bibit lewat aplikasi, sampai konsultasi hama via chat.

Dulu bayangin, petani mau jual hasil bumi harus tengkulak, harga ditekan, nangis di pojok sawah.

Sekarang? Tinggal bikin katalog di status WA, pembeli datang nyamperin, malah kadang rebutan.

Alhamdulillah, hasil panen organikku sering ludes duluan, karena pasar sudah sadar kesehatan.

Para emak-emak pengajian yang doyan banget beras organik, mereka rela bayar lebih mahal asal kualitasnya terjamin.

Jadi petani itu bukan cuma nanam dan panen, tapi juga public relation, marketing, dan negosiator ulung.

Apalagi kalau menghadapi tante-tante yang nawar harga sambil bawa keranjang, itu butuh skill diplomasi tingkat tinggi.

“Tante, ini beras premium, bukan beras setan, dijamin pulen, masak sehari nggak basi.”

Biasanya begitu denger kata nggak basi, langsung minta bonus sekilo, ya sudah lah, demi kepuasan pelanggan.

Kembali ke cerita bebek. Setelah insiden itu, aku jadi kepo tentang dunia perbebekan.

Oh iya Mak, Bapak, ternyata bebek itu punya banyak jenis, ada bebek petelur, pedaging, dan bebek hias.

Bebek yang suka nongkrong di sawah biasanya jenis bebek lokal, kayak bebek Mojosari atau bebek Alabio, badannya tegap, lincah, galaknya maksimal.

Tapi ada juga lho bebek yang manis, contohnya bebek mandarin, warnanya cantik, tapi hati-hati, di balik keayuan, kadang sifatnya jutek.

Kalau di sawahku, bebeknya campur aduk, pokoknya komplit, kayak pasar burung dadakan.

Makanya sekarang aku juga pelihara bebek mandarin, sekalian buat properti konten, biar fotonya makin estetik.

Videoku bareng bebek warna-warni langsung diserbu emak-emak, “Cakep euy, bebeknya dijual nggak Le?”

Lah, aku malah buka jastip bebek hias dadakan, sekarang tiap panen, omzet tambahan dari bebek lumayan buat beli kopi sachet.

Jadi dari musibah diseruduk, aku dapat ide bisnis baru, berkahnya minta ampun.

Ngomong-ngomong soal kopi, petani milenial tuh identik banget sama ngopi, entah kenapa, mungkin biar nggak ngantuk jagain sawah dari hama tikus.

Tikus itu aktor antagonis di dunia persawahan, kerjaannya merusak batang padi, bikin petani darah tinggi.

Kalau sudah panen, tapi banyak padi yang roboh karena tikus, rasanya mau nangis guling-guling di lumpur.

Makanya petani modern kadang pakai burung hantu, ular sawah, atau jebakan tikus, semua dikerahkan.

Aku sendiri punya pasukan khusus: si Joko si bebek jagoan. Dia doyan banget berburu keong mas, hama yang juga merepotkan.

Keong mas itu binatang kecil warna pink, kalau dibiarkan bisa merusak padi muda, tapi bebek doyan, jadi semuanya seimbang.

Ekosistem sawah itu rumit, tapi kalau kita paham, semua bisa jadi solusi alami, nggak perlu pestisida berlebihan.

Ini nih yang pengen aku edukasi ke anak muda, bertani itu bukan cuma nyangkul, tapi juga mikir, riset, dan kolaborasi sama alam.

Makanya aku sering ngadain workshop kecil-kecilan di saung, ngajarin bapak-bapak cara bikin pupuk kompos, cara marketing online, cara foto produk yang menarik.

Awalnya pada malu, “Ah aku mah geus kolot, kumaha nganggo HP,” katanya.

Tapi setelah pelan-pelan diajarin, eh sekarang pada ketagihan lihat video TikTok, malah kadang kirim pesan, “Le, ajarin bikin live jualan singkong.”

Aku seneng banget, ini lho pembangunan dari desa, kita yang muda jadi jembatan.

Dan yang paling lucu, bapak-bapak itu malah kompak beli hp baru biar lancar live streaming, pas panen raya, mereka live bareng dari sawah, seru!

Suatu siang yang panas, aku kedatangan rombongan emak-emak PKK, mau belajar hidroponik sederhana.

Dengan semangat, aku jelaskan, eh tiba-tiba si Joko nongol, bawa ranting di paruh, ditaruh di depan emak-emak, kayak ngasih kado.

Emak-emak histeris, “Ya ampun lucunya bebekmu Le, pinter banget!”

Langsung deh sesi pelatihan berubah jadi sesi foto bareng Joko, aku malah jadi fotografer dadakan.

Tapi ya nggak apa, yang penting mereka happy, ilmu hidroponik bisa nyusul, yang penting niat menanam sudah tertanam.

Bicara hidroponik, ini solusi keren buat generasi muda yang nggak punya lahan sawah luas, cukup modal paralon, nutrisi AB mix, dan bibit sayur.

Bisa ditaruh di pekarangan, bahkan di atap rumah sekalipun, dan pastinya instagramable banget.

Banyak temenku yang sukses jualan sayuran hidroponik online, dikirim pakai ojek, sampai ke pelosok, fresh, tanpa pestisida.

Jadi jangan khawatir mau jadi petani meski tinggal di perkotaan, semua bisa, yang penting niat.

Kembali ke inti cerita, aku percaya setiap tantangan di sawah itu ujian kesabaran dan kreativitas.

Diseruduk bebek? Udah biasa. Disamber ular? Lumayan bikin jantungan. Kehujanan pas bikin konten? Sekalian mandi alam.

Yang penting kita selalu bisa ngambil sisi lucunya, karena kalau dijalani dengan senyum, pekerjaan seberat apa pun akan terasa ringan.

Ingat kata emakku, “Nang, sawah iku panguripan, ojo digawe susah, dinikmati wae prosesne.”

Nasihat singkat tapi dalem banget. Jadi setiap kali ke sawah, aku selalu tersenyum, meskipun kadang senyumnya getir karena inget besok harus bayar iuran irigasi.

Sekarang aku punya banyak stok konten kocak hasil kejadian sehari-hari, semuanya alami, nggak pakai skenario.

Contohnya kemarin, aku coba bikin video drone mau pantau sawah, eh tiba-tiba drone dikejar burung alap-alap, nyaris nabrak pohon kelapa.

Padahal burung itu cuma ngerasa terganggu, dia pikir drone itu rival, langsung deh perang udara dadakan, seru banget.

Atau waktu aku panen perdana bawang merah, bangga banget hasilnya, mau selfie, eh ada bebek lewat nyelip di sela-sela bawang, fotonya jadi absurd.

Semua kejadian itu aku share di grup keluarga, dan komentar selalu lebih lucu dari isi kontennya.

Paman berkata, “Wah panen bawang dikalahke bebek, kalah tenar.” Bibi nimpalin, “Bebek e diopeni tho le, ben iso dadi artis sinetron.”

Grup keluarga emang surganya komedi satir. Tapi dari situ aku sadar, pertanian dan keluarga adalah dua hal yang nggak bisa dipisahkan.

Di setiap bulir padi ada doa simbah, di setiap lumpur ada keringat bapak, dan di setiap tawa ada kehangatan rumah.

Karena itu aku nggak akan bosan ngajak kalian semua, buat lebih menghargai petani dan hasil bumi.

Jangan cuma komen “petani itu pahlawan”, tapi juga aksinya, beli langsung dari petani, dukung produk lokal, hargai kerja keras mereka.

Kalau kamu anak muda, jangan takut terjun ke dunia pertanian, banyak peluang keren, dari agritech, agrowisata, sampai konten kreator sawah.

Siapa tahu kamu bisa jadi Dimas-Dimas lain, punya bebek bodyguard, dan viral karena diseruduk bebek.

Ah, ngomong-ngomong, baru inget, besok pagi aku ada janji sama Dinas Pertanian, mau presentasi sistem integrasi padi-bebek, doain lancar ya Mak, Pak.

Semoga nggak ada insiden Joko nyeruduk di depan pejabat, bisa tamat riwayatku.

Tapi kalau pun kejadian, sudah siapkan amunisi nasi bungkus buat nyelamatin keadaan, minimal jadi bahan tertawaan sehat.

Hidup petani milenial memang penuh kejutan, ibarat bungkus kado, nggak pernah tahu isinya lumpur atau berlian.

Tapi percayalah, setiap tetes peluh akan berbuah manis, asal kita mau berusaha dan tidak gengsi untuk belajar.

Jadi, buat emak-emak yang masih ragu anaknya jadi petani, lihat saja aku, tetap keren kan meski kadang lumpuran?

Buat bapak-bapak, ayo dukung anak muda pakai teknologi di sawah, biar pertanian Indonesia makin jaya di kancah global.

Alhamdulillah, sekarang hasil panenku sudah dilirik eksportir, beras organik tanpa residu kimia diminati di luar negeri.

Coba kalau dulu aku menyerah pas diseruduk bebek, mungkin nggak akan sampai titik ini.

Setiap musibah adalah anak tangga, yang penting kita mau menaikinya sambil sesekali ngakak.

Mak, Pak, terima kasih sudah baca curhat panjang ini, semoga menghibur dan memberi semangat.

Jangan lupa, kalau lihat petani swafoto di sawah, doain biar nggak diseruduk bebek ya.

Dan kalau lihat bebek lewat, sapa aja, siapa tahu dia calon bodyguard andalan.

Wassalam dari sawah, dari aku, si Joko, dan padi-padi yang mulai menguning.

Sampai jumpa di konten kocak berikutnya, jangan lupa panen raya sebentar lagi, undangan terbuka buat yang mau wisata petik padi!

Emak-emak sekalian, bawa panci ya, biar bisa masak langsung nasi liwet di sawah. Biar rame!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *